Friday, 25 August 2017

Coretan Tanpa Tinta

Volume Lakban dan Pria Berhidung
Dimulai pada –kata orang, pagi hari- tapi saat ini mataku tak menemukan seberkas sinar matahari pun. Saat perut terasa kenyang bahkan sebelum makan apa pun, serta perasaan rindu pada sesuatu yang bahkan dimiliki pun tidak. Karena sudah dimulai, mari kita lanjutkan. Jadi,saya bertemu dengan seorang anak yang tergopoh-gopoh membawa banyak lakban. Saking banyaknya, dia sampai kesulitan berjalan. Rasa penasaran yang menumpuk di dada dan pikiranku, akhirnya saya bertanya,
“Apa itu?” anak itu berhenti lalu menatapku. Ia menghela nafas panjang. Aku tersenyum terpaksa.
“Menurut mbak?” Dia malah balik tanya. Dalam waktu seper-sekian detik hatiku sudah dipenuhi batu kerikil, batu kali, dan batu proses volkano, serta batu-batu yang rugi telah saya sebutkan.
coretan tanpa tinta by nanung

“Lakban,” jawabku dengan tersenyum kecut.
“Tapi, aku hanya ingin tahu kenapa membawa lakban sebanyak itu?!” Tiba-tiba dia menjatuhkan semua lakban yang dia bawa di depanku.
“Untuk melakban mulut mbak” katanya lalu pergi begitu saja. Saya tidak bengong, kok. Saya hanya diam mematung tanpa dipahat. Entah berapa menit keadaan hanya seperti itu, tiba-tiba ada seseorang yang datang dan menepuk pundak saya.
“Kamu ... sedang apa?” tanyanya. Aku menatapnya lalu kuceritakan apa yang barusan terjadi. Dia hanya menggeleng lalu bertanya lagi.
“Semua lakban ini?”
“Iya,” jawabku asal jawab.
“Tadi... berasal dari mana?” tanyanya lagi. Aku menghela nafas panjang.
“Dari seorang anak”
“Anak dari mana?”
“Dari pikiranku sendiri!” lalu dia tertawa. Dia meraih lakban yang ditinggalkan anak itu.
“Pantas saja tidak lakbannya pun memang tidak kelihatan... tapi mampu menutup mulutmu tuh!” Dia akhirnya pergi sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Aku menggeleng. Tiba-tiba sudah ada seorang tinggi besar yang menatapku tajam, tak setajam pisau.
“Itu lakban anakku tadi sepertinya,” katanya dengan suara serak dan ada rasa takut yang merambat, mulai memenuhi tubuhku.
“Saya tidak mencurinya!” kataku sebelum dituduh mencuri lakban. Orang besar seram dengan hidung sebesar mobil mainan dan gigi emas di salah satu gigi tambalnya itu mengeram .
“Hrrrhmm.. memangnya aku menuduhmu mencuri, hah?!”
“TIDAK! Tuan tidak menuduhku kok!” jawabku secepat kecepatan cahaya.
“Memang tidak.. biar kubawa lakban ini bersamaku!” katanya lalu mengangkat lakban-lakban itu dan hendak pergi.
“M... maaf tuan...sebenarnya lakban itu itu.. untuk apa?” tanyaku dengan mengumpulkan keberanian dengan menyerap tenaga dari alam dan menahannya di bawah perut, menahan kentut, pipis, buang air besar.
“Kamu bisa menjaga rahasia?” tanyanya pelan. Aku mengangguk-angguk.
“Iya tuan!!!” kataku sesemangat menahan tenaga dari alam.
“Untuk menyambung waktu. Waktu sekarang sudah terlalu pendek, jadi harus disambung. Orang-orang sudah tidak peduli, atau entah pura-pura tidak peduli, atau menjadi pribadi yang buta, tuli, dan bisu. Sebenarnya sebanyak apa pun aku merekatkan waktu dengan lakban, itu sia-sia dan aku tidak tahu bagaimana merekatkannya. Aku sudah terlalu banyak berbicara yang bahkan tidak kamu dengar atau kamu mengerti, bahkan aku sendiri pun tidak mengerti mengapa berkata begitu denganmu, tapi yang pasti,,,,” Orang dengan hidung besar itu menatap ke atas lalu menatapku lagi.
“Aku harus segera pergi dari hayalanmu”
.......
Jakarta, 20 Desember 2016
20:50

by: Nurrahmah Chan



Artikel Terkait

Coretan Tanpa Tinta
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email