Friday, 25 August 2017

Mungkin kami memang salah....

Sekitar beberapa hari yang lalu tepatnya hari senin, beberapa pasang orang tua berkumpul dalam sebuah forum, mereka berkumpul dengan alasan yang sama, sama-sama dari pulau jawa dan merantau, sama-sama guru, sama-sama punya anak perempuan, sama-sama resah dengan masa depan anak-anaknya. Saya perhatikan gerak -gerik mereka, mimik wajah mereka, bahasa yang keluar dari mereka, meluncurlah obrolan dengan sebuah pertanyaan yang diajukan kepada saya. “ Mbak ngajar dimana ? “ seorang ibu kepala sekolah yang tampak makmur dengan postur tinggi besar melempar pertanyaan kepada saya. 
 
“ Oohh... saya gak ngajar bu, saya cuma makan sama tidur aja di rumah, sama nonton drama korea, kalau lagi ada uang nonton bioskop “ beberapa pasang mata langsung mengarah ke saya ( Dahhh biasa santai aja ) 
 
curhatan seorang wanita muda
“ Waktu itu kan kuliah di PGSD ya ??” aku mengangguk
“ Sukenyeeee yang anak-anaknya dah berhasil i, berhasil mendidik anak jadi guru semue. Saye sedih dengan anak saye dak bise jd guru cume swasta lah. Nyesal saye be biarkan die kuliah jauh-jauh giye, salah strategi waktu itu “ Seorang ibu nongol dengan steatment yang arrrggggggghhhhhhh
Saat itu pengen muntah atau gak kabur kemana atau ngabisin lontong sayur di meja, cuma karena terlalu menghormati perjamuan tak penting ini aja alhasil cuma bisa ngampet. 
 
Jika dirasa kami salah atas jalan yang kami pilih, dulu mestinya jangan repot-repot bertanya pada kami “ Kalau besar ingin jadi apa ?” tak perlu kiranya meluangkan waktu untuk waktu memperkenalkan pada kami ini dokter, ini polisi, ini tentara, ini pilot, ini tukang bakso, ini tukang bikin cendol, dll. Jika dirasa jalan yang paling benar adalah yang dipilihkan adalah jalan dari ibu bapak, maka sejak sekolah silahkan tentukan masa depan kami, bahwa kami harus menjadi ini-tidak bisa tidak, jika perlu tentukan jumlah rezeki kami, siapa jodoh kami, dan semuanya, karena jika semuanya di sesali saat ini, maka kamilah yang paling menyesal, dan mungkin kami yang tidak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri. 
 
Diakhir acara saya melihat seorang anak laki-laki yg duduk diam di sudut menunggu sang Ibu untuk pulang, wajahnya tampak begitu kosong. Si Anak dari Ibu yang mengatakan bahwa selama ini adalah salah strategi untuk mengambil jalan keputusan tentang masa depan yang ia pilih.
Sekiranya kami salah pak bu....kami pun harus bangkit dengan mengumpulkan kepingan sayap kami yang udah diinjak-injak, mencoba kembali terbang dengan pengharapan terbaik kami. Maafkan kami untuk membuat masa depan buruk ini
Terima kasih 
 
source: windari



Artikel Terkait

Mungkin kami memang salah....
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email