Saturday, 30 September 2017

KEBAIKAN IRI "Coretan Tanpa Tinta"

Jantung terdakwa berdetak dengan detakan yang tak seperti biasa. Apakah terdakwa sakit? Apakah perlu berobat? Ini tidak berbahaya, kan? Begitu beberapa pertanyaan muncul karena detakan jantung yang berbeda dari biasanya.

Ia memikirkannya, beberapa menit, beberapa jam dan akhirnya seorang hakim mengetukkan palu dan memvonis pemilik jantung itu tidak bersalah karena telah melakukan kebaikan "iri".
Orang-orang tak tahu menahu, dan bahkan tak peduli dengan vonis hakim. Mereka melihat sesuatu yang lebih indah, yakni perempuan dengan lengkap perhiasan mewah. Mereka bukan lupa, tapi hanya sekedar melupakan vonis hakim yang tidak nyata kenyataannya menurut mata mereka.
Hm... Kebaikan iri?

kebaikan coretanku

Seseorang muncul dan bertanya kepada dirinya sendiri. Dia menggeleng, lalu berpikir lagi, mengangguk, lalu berpikir lagi. Dia menghempaskan suara keras.
"Ah!!!!" Dia depresi.


"Kebaikan apa yang sudah ia lakukan, pak hakim?!" tanyanya di tengah-tengah pengadilan maya.
"Kebaikan iri, saudara," jawab hakim dengan tersenyum.
"Bagaimana bisa, perbuatan itu adalah kebaikan, dan dia... (Menunjukkan jarinya ke arah terdakwa kebaikan iri) dibebaskan dari segala hukuman?! Tidak bisa dipercaya!" teriaknya. Pengadilan maya menjadi tegang.


"Saudara...." Suara hakim memenuhi ruang maya.
"Terdakwa ini melihat mendengar orang tua dan adiknya melakukan puasa sunah. Tasu'ah dan Asyura. Ia juga mendapatkan pesan teks yang berisi 'sudah sholat Dhuha, kah?' Hatinya iri dan mendidih. Dia sendirian dan takut bagaimana jika ia tidak bersama dengan mereka kelak????????
Ya, 'KELAK', kata terdakwa..."


Pengadilan maya semakin sunyi, sepi.....


Oleh Nurrahmah



Artikel Terkait

KEBAIKAN IRI "Coretan Tanpa Tinta"
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email