Thursday, 28 September 2017

Untuk Apa Saya Bekerja?

Saya akan menjawab satu pertanyaan dahulu yang diajukan kepada saya beberapa waktu yang lalu mengenai untuk apa saya bekerja. Betul, saya seorang wanita. Mungkin pertanyaan itu juga muncul karena saya seorang wanita, bukan laki-laki, yang notabene seorang pencari nafkah. Hal ini, secara langsung atau tidak, bukannya saya ingin mengaitkan peristiwa Kartini tentang emansi wanita dengan diri saya. Ada hal lain yang lebih memotivasi saya untuk memilih menjadi seorang perempuan yang bekerja. Ia adalah ibu saya.

Keluarga saya, Alhamdulillah saat ini adalah keluarga yang lebih berkecukupan, sedangkan dahulu, keluarga kami cukup berkecukupan- perjalanan hidup yang mungkin tidak diingat adik-adik saya. Bagaimana ibu saya mengatur menu agar kami tidak bosan dengan sayur yang didapat dari kebun, tanpa lauk, bagaimana ibu saya berbohong bahwa beliau kenyang, dan tangisan di kegelapan malam, yang secara tak sengaja aku mendengarnya. Saya menganggab hal itu sebagai penyesalan, dimana beliau tidak dapat memberikan sesuatu seperti ....
untuk apa saya bekerja

Jadi saya hanya ingat kata-kata beliau, “Betul, Nak, kamu seorang perempuan, tapi jadilah perempuan yang matang dan bekerja, yang dapat ikut menjaga keluargamu, seperti suamimu nanti” yang membuat saya lebih merasa ngilu, ketika beliau menambahkan kata, “Jangan seperti ibu,” tapi, justru, saya ingin seperti ibu.

Alasan kedua kenapa saya bekerja, adalah saya dididik begitu oleh keluarga saya. Memang, di rumah, saya tahu dan saya merasakan, walaupun saya anak pertama dari empat bersaudara, saya sangat disayang, tapi saya dilatih mandiri. Sejak SMP saya diberi tanggung jawab untuk mengatur keuangan saya sendiri, menyelesaikan hal-hal yang menurut ayah, dapat saya selesaikan sendiri. Inilah mengapa saya memulai kemandirian saya dengan bekerja, terutama karena saya adalah anak pertama. Ada hal mendasar dari lubuk hati anak pertama untuk menunjukkan sesuatu yang membanggakan kepada kepada beliau berdua, entah mengapa saya menunjukkannya dengan menjadi seorang guru di Jakarta. Sebenarnya, bukan sepenuhnya ‘entah’, karena ketika berumur 5 tahun, salah satu mimpi saya adalah menjadi seperti ayah, seorang guru.

Untuk masalah kelanjutan untuk apa saya bekerja, jawabannya cukup dengan “bismillah” saja. :P karena bismillah itu alasan yang mungkin sih saya jabarkan di sini, tetapi akan membutuhkan waktu yang lama dan .....

By: Nanung



Artikel Terkait

Untuk Apa Saya Bekerja?
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email